‘Gerbang Magis’ Platform 9 3/4 ala Harry Potter

Leave a comment

Saya bukan penggemar film ataupun novel terkenal karya JK Rowling, Harry Potter yang buku maupun sequel filmnya sampai nomor berapa pun saya tidak tahu. Meskipun begitu saat kebetulan ada kesempatan berkunjung ke London beberapa tahun lalu, saya malah berkesempatan ber-foto di salah satu tempat spot film Harry Potter yaitu di stasiun King’s Cross. Seorang teman memberitahu kalau stasiun ini adalah tempat pengambilan gambar film Harry Potter, lalu saya ingat di salah satu trailer film itu memang ada tempat seperti yang saat itu saya berada di sana. Lalu dengan bersemangat dia mengajak saya mencari suatu tempat yang katanya adalah trademark film Harry Potter yang namanya Platform(Peron) 9 ¾ !

Platform 9 3/4 di King's Cross Station.

Platform 9 3/4 di King’s Cross Station.

Tidak begitu sulit mencari peron yang di maksud, di salah satu sisi gedung stasiun megah namun terkesan klasik ini kita menemukan peron tersebut yang bertuliskan ‘Platform 9-3/4’ lengkap dengan sebuah kereta dorong yang separuh bagian depannya seolah masuk ke dalam dinding, persis dalam adegan di Harry Potter kata seorang teman. Meski tidak tahu jalan cerita dari film-nya dan mengapa namanya peron 9 ¾, tidak ada salahnya ikutan teman-teman lain buat mengabadikan momen mumpung ada kesempatan. Untungnya saya enggak percaya sihir,jadi enggak mau mencoba ikutan Harry Potter dengan masuk menembus peron itu, bisa benjol nanti…hehe.

Belajar (Lagi) Falsafah Hidup Orang Jawa

Leave a comment

Falsafah Hidup Orang Jawa

Beberapa hari terakhir ini saya khusyuk membaca buku berjudul DNA Muhammad, aktivasi gen positif dengan shalawat, karya Ir. Agus Haryo Sudarmojo. Di salah satu bagian buku tersebut ada yang membahas mengenai falsafah hidup orang Jawa yang saya sebagai orang Jawa pun kurang memperhatikan walaupun mungkin pernah di ajarkan secara tidak langsung oleh orang tua maupun orang-orang di sekitar saya. Berikut saya kutip beberapa falsafah tersebut langsung dari bukunya :

Mataram, Sentral kebudayaan Jawa

Mataram, Sentral kebudayaan Jawa

1. Urip Iku Urup
Hidup itu nyala. Hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain di sekitar kita, semakin besar manfaat yang bisa kita berikan tentu akan lebih baik.
2. Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta dhur Angkara
Manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan, dan kesejahteraan, serta memberantas sifat angkara murka, serakah, dan tamak.
3. Sura Dira Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti
Segala sifat keras hati, picik, angkara murka, hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati, dan sabar.
4. Ngluruk Tanpa Bala, Menang Tanpa Ngasorake, Sekti Tanpa Aji-Aji, Sugih Tanpa Bandha
Berjuang tanpa perlu membawa bala bantuan; menang tanpa merendahkan atau mempermalukan; berwibawa tanpa mengandalkan kekuasaaan, kekuatan, kekayaan, atau keturunan; kaya tanpa didasari kebendaan
5. Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan
Jangan gampang sakit hati manakala musibah menimpa diri, jangan sedih manakala kehilangan sesuatu.
6. Aja Gumunan, Aja Getunan, Aja Kagetan, Aja Aleman
Jangan mudah terheran-heran, jangan mudah menyesal, jangan mudah terkejut, jangan mudah kolokan atau manja.
7. Aja Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonya lan Kemareman
Janganlah terobsesi atau terkungkung oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan, dan kepuasan duniawi.
8. Aja Keminter Mundhak Keblinger, Aja Cidra Mundak Cilaka
Jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah, jangan suka berbuat curang agar tidak celaka.
9. Aja Milik Barang Kang Elok, Aja Mangra Mundhak Kendo
Jangan tergiur oleh hal-hal yang tampak mewah, cantik, indah; jangan berpikir mendua (tidak memiliki focus) atar tidak kendur niat dan kendur semangat
10. Aja Adigang, Adigung, Adiguna
Jangan sok kuasa, sok besar, sok pintar

Falsafah tersebut ternyata sangat sesuai dengan hal-hal yang di ajarkan Islam, kalau kita bisa melaksanakan falsafah tersebut tentunya hidup akan lebih indah dan harmonis. Diluar konteks ajaran agama Islam, saya juga berkeyakinan kalau dalam hal hubungan horizontal seperti yang dibahas pada falsafah di atas, semua agama baik itu agama langit maupun bumi sewajarnya mengajarkan ajaran yang sama mengenai kebaikan, kerendahan hati, dan cinta kasih yang di sampaikan dalam redaksi yang berbeda.
Akhirnya sebagai orang jawa saya pribadi merasa sampai hari ini saya belum begitu kenal dengan falsafah yang sudah ada sejak jaman nenek moyang saya itu. Saatnya berbenah!!

Kereta kita, di dalamnya banyak cerita

2 Comments

Kereta kita punya manusia, di dalamnya beraneka cerita. Ada yang susah ada yang senang. Ada yang kaya ada yang miskin‘.

Stasiun - Dari sinilah segala cerita berasal dan berakhir dalam perjalanan ber jam-jam sampai tujuan

Stasiun – Dari sinilah segala cerita berasal dan berakhir dalam perjalanan ber jam-jam sampai tujuan

Bagi yang sering memesan tiket kereta api melalui call center PT KAI 121 tentunya sering mendengar cuplikan lirik lagu di atas. Lagu tersebut menurut info yang saya dapat, lagu itu di ciptakan oleh Yahya Umbara yang merupakan salah seorang komisaris dari PT KAI.

Akhir-akhir ini sejak lebaran tahun 2012 lalu, saya hampir selalu menggunakan jasa kereta api di akhir minggu atau istilah gaul-nya ‘PJKA’ (Pulang jumat kembali ahad) dengan relasi Jakarta-Jogja-Jakarta. Sebagai orang yang kurang begitu suka dengan keramaian dan kesumpekan Jakarta opsi pulang tiap weekend memang menjadi pilihan saya. Setiap orang yang bertemu saya di kereta begitu tahu kalau saya pulang tiap weekend hampir selalu menduga kalau anak-istri saya berada di Jogja dan saya bekerja di Jakarta, memang benar tapi Cuma 50% benarnya. Benar karena saya memang bekerja di Jakarta, tapi salah karena saya belum menikah apalagi punya anak.hehe
Saya rutin pulang ke Jogja karena saya memang pengen dan merasa lebih enjoy weekend di Jogja plus bisa sering nengok orang tua saya.

Banyak yang bertanya : Apa gak capek bolak-balik ? biasanya saya jawab : La wong di kereta juga tidur ya menurut saya gak capek, biasa saja.

Ada juga yang bertanya : Apa gak boros bolak-balik tiap minggu gitu ? yaa, ada kemauan pasti ada jalan lah…hehe

Ok, cukup dengan cerita pribadi saya, kita kembali ke lagu tadi. Ceritanya semenjak menjadi anggota PJKA saya menjadi terbiasa dengan rutinitas pulang pergi stasiun, masuk kereta, ngobrol dengan penumpang sebelah, nyewa bantal, nggelar koran bekas buat tidur. Point yang akan saya bahas adalah ngobrol dengan penumpang sebelah, apa yang sering saya temui di sana? Sebelumnya saya informasikan bahwa kereta regular saya adalah kereta kelas bisnis Senja Utama Jogja, kadang Solo dan terkadang juga kereta ekonomi AC, jarang sekali saya memakai jasa kereta eksekutif.

Kereta kelas bisnis kalau dilihat dari segi peruntukannya adalah untuk golongan masyarakat kelas menengah, di kereta ini banyak saya temui sesame PJKA’ers dari berbagai macam profesi. Darimana saya tahu profesi mereka? Ya dari ngobrol-ngobrol dengan mereka tentunya. Biasanya begitu saya duduk di kursi sesuai tiket saya akan langsung bertanya: turun di mana? Asal darimana? kerja dimana?, intinya adalah memulai obrolan supaya tidak canggung, mengingat mereka lah yang akan berada disamping kita selama 8-9 jam perjalanan. Ada beberapa penumpang yang jaga image dan memilih tidak banyak bicara (kalau ketemu yang model begini mending cepat-cepat ditinggal tidur saja…hehe), tetapi Alhamdulillah masih lebih banyak yang bisa di ajak ngobrol.

Dari perjalanan saya selama beberapa bulan terakhir saya telah menemui beberapa orang dengan berbagai latar belakang profesi. Saya pernah bertemu dengan mbak mahasiswi yang kuliah di Jogja, Tentara, anggota Paspampres, secretariat DPR/MPR, Pegawai Depkeu, Ibu rumah tangga, pegawai surat kabar, pegawai pertambangan seperti saya sendiri, kelasi kapal, Pensiunan, kakak kelas SMA tapi beda angkatan jauh banget, Pegawai pabrik, Pegawai Negeri, Pegawai BUMN, dan lain-lain. Dari situ terbukalah banyak cerita mengenai banyak hal: Ada ibu rumah tangga yang bercerita mengenai masa lalu nya bekerja di Jakarta, tentang keluhannya dengan Jakarta dan tentang perjalanannya menemui suami nya yang bekerja di Jakarta (ibu itu tinggal di Jogja karena pilihan dia dan suaminya untuk menyekolahkan anaknya di Jogja). Lalu ada anggota tentara yang menceritakan tentang pekerjaannya dan juga iseng-iseng bercerita mengenai kegemarannya dengan dunia malam Jakarta. Bapak pegawai BUMN bidang pertanian yang banyak bercerita mengenai masalah politik terkini dan keprihatinannya terhadap kondisi Negara. Mas Pegawai Depkeu yang menceritakan bagaimana proses pencairan dana BUMN, dan bagaimana hubungan dinas-nya dengan beberapa kasus korupsi yang terjadi akhir-akhir ini. Seorang kelasi kapal tanker bercerita mengenai bagaimana pekerjaan di kapal, dan bagaimana beberapa orang bisa begitu royal saat jauh dari rumah dan keluarganya. Bapak Pegawai Pertamina yang ternyata kakak kelas SMA dan Kuliah tapi terpisah jeda lebih dari 30 tahun bercerita mengenai kondisi SMA dan tempat kuliah saya pada masanya. Seorang pegawai pabrik Daihatsu bercerita bagaimana proses pembuatan mobil dan menginformasikan kalau ternyata mobil Toyota Avanza di produksi di pabrik Daihatsu. Seorang anggota Paspampres bercerita mengenai bagaimana bekerja mengawal orang nomor satu dan dua negeri ini, bercerita mengenai prosedur pengawalan, mengenai senjata yang digunakan dan tidak lupa cerita bagaimana dulu sewaktu sebelum jadi Paspampres bertugas di Aceh. Kemudian ada seorang bapak pegawai percetakan yang sudah menjadi anggota ‘PJKA’ sejak lama memberikan beberapa saran kepada saya tentang alat-alat yang harus dibawa supaya nyaman di kereta.hehe

Sepertinya masih banyak cerita yang saya dengar dan saya alami selama berada di kereta tetapi ingatan saya terbatas dan untuk sementara ini hanya beberapa cerita tersebut yang saya ingat. Bukan suatu cerita yang hebat karena saya dan mereka hanyalah segelintir rakyat biasa di negeri ini, tetapi dengan mendapatkan cerita tersebut cukup membukakan wawasan baru bagi saya pribadi karena cerita mereka kebanyakan adalah hal baru bagi saya. Tepat sekali bagaimana pak Yahya Umbara menciptakan lagu Kereta Api tersebut, ada banyak cerita di kereta dari manusia-manusia yang menjadi penghuninya meski cuma sementara. Di antara mereka ada yang sedang bergembira, juga mungkin ada yang sedang sedih. Ada yang kaya dan juga ada yang miskin.

Di kereta api, dalam perjalanan beratus bahkan beribu kilometer terdapat beragam cerita dari manusia-manusia yang berada di dalamnya, saling bercerita tentang kondisi terkini, tentang kisah hidup mereka, tentang impian mereka, tentang keluhan meraka, tentang kebahagiaan dan kesedihan, dan tentang semuanya.

Re-posting dari kompasiana saya 8 Jan 2013

Rakit Sendiri Sepeda-mu !!!

2 Comments

Kegiatan bersepeda gunung memang telah begitu populer akhir-akhir ini. Mulai dari komunitas maupun pribadi yang suka gowes di aspal, jalan kampung, crosscountry (XC), All Mountain (AM), Freeride (FR), hingga downhill (DH). Setiap sepeda untuk masing-masing disiplin tersebut memiliki karakter dan spesifikasi berbeda tetapi disatukan dalam satu kesamaan yaitu rata-rata harga sepeda dan spare part-nya mahal. Bayangkan saja untuk sebuah sepeda XC kelas atas seperti Specialized Epic yang frame nya super enteng karena terbuat dari serat karbon dan material eksklusif yang super ringan bisa mencapa $9800 atau lebih dari 90 Juta rupiah !!! Tidak berbeda dengan disiplin yang lain, sebuah sepeda DH kelas atas harganya sekitar 60-70 juta !!!.

Pun demikian dengan harga selangit yang nampak tidak masuk akal tersebut, peminat sepeda gunung tidak pernah surut. Orang rela membayar mahal sepeda atau komponennya bahkan menurut beberapa cerita teman yang bikin senyum, ada yang sampai membujuk-bujuk istri atau terkadang kucing-kucingan dengan istri mereka supaya tidak ketahuan beli komponen sepeda yang mahal. Orang cenderung meng-upgrade sepedanya dengan pertimbangan performa yang lebih baik, gengsi atau ikut-ikutan teman satu komunitas.

Apabila spare part sudah dibeli, rentetan biaya masih belum terhenti karena beberapa goweser lebih memilih memercayakan sepedanya di rakit/di tune-up di bengkel sepeda. Saya pribadi lebih menyukai merakit sepeda gunung saya sendiri meski sebatas yang saya bisa (yang tidak bisa saya kerjakan adalah set wheelset dan tuning front derailleur). Motivasi saya merangkai sepeda saya sendiri selain supaya biayar lebih irit tetapi yang paling penting adalah dengan merangkai sendiri saya merasa jadi ada chemistry yang terasa dengan sepeda yang saya rakit sendiri (lebah ya? Hehehe). Sampai saat ini seingat saya, sudah 3 sepeda yang saya rakit sendir. Yang pertama adalah sepeda freeride, Polygon Collosus FR 2.0, kedua adalah memutilasi sepeda FR saya dan saya pindahkan ke frame Giant Glory 0 2011, dan yang paling update adalah saya memindahkan komponen sepeda di sepeda United Patrol 511 saya ke frame Giant Reign 2009 yang masuk ke kelas AM.

Merakit Polygon Collosus FR 2.0 Tahun lawas

Merakit Polygon Collosus FR 2.0 Tahun lawas

Spare Part Collosus Merah siap berpindah ke Giant Reign 0

Spare Part Collosus Merah siap berpindah ke Giant Reign 0

Merangkai Giant Reign dari spare part Patrol 511

Merangkai Giant Reign dari spare part Patrol 511

Utak-atik crank & BB

Utak-atik BB

Merakit sepeda memerlukan pengetahuan tentang komponen sepeda yang bermacam-macam jenisnya, antara lain : frame, RD, FD, shifter, rem, rotor, Cassete, Hub-Freehub, spoke, rims, ban, fork, stem, stang, grip, seatpost, sadel dll. Untuk peralatan perbengkelan yang dibutuhkan rata-rata komponen sepeda menggunakan profile allen key (Kunci L). Saat ini banyak toko yang menjual tool set untuk merakit dan perbaikan sepeda. Untuk tata cara merakit sebenarnya tidak sulit, karena sepeda konstruksinya lebih sederhana daripada motor, (meski kadang harganya melebihi harga motor…hehe). Apabila ada hal-hal yang belum bisa diketahui, Google maupun Youtube masih beroperasi. Pengalaman pribadi saya dulu sempat bingung dengan cara pasang rantai dan nge-set RD, akhirnya bertanyalah saya ke youtube seperti dibawah ini :

Cara Pemasangan dan Setting Rantai :

Cara Pengesetan RD :

Dan masih banyak lagi petunjuk yang bisa dicari di Youtube maupun Google

Si Reni sudah lulus di test di medan berat

Si Reni hasil utak-atik sendiri sudah lulus di test di medan berat

Demikian saja artikel pendek saya demi memeriahkan kembali blog saya yang mood-mood an ini. Terserah anda apakah akan merangkai sepeda anda sendiri seperti saya atau lebih mempercayakan sepeda ke bengkel langganan. Yang jelas saya sendiri lebih memilih merangkai sendiri sepeda saya karena dengan begitu saya merasa chemistry saya dengan sepeda yang saya rakit dan saya pakai gowes lebih terasa (Lebay.com…hehe)

Salam,

Giant Glory rakitan sendiri sudah lolos uji di trek DH Turgo

Giant Glory rakitan sendiri sudah lolos uji di trek DH Turgo

Jalur Sepeda Panggang-Selopamioro: antara jernihnya sungai Oyo, dan Warung Makan Mas Prih

10 Comments

Cerita ini berawal ketika saya di ajak oleh komunitas sepeda gunung Sukudholl (Pak Koestanto, Mas Danto, Mas Farkhan, Pak Widodo, pak Bambang dkk) blusukan di wilayah Panggang, Gunungkidul. Menurut mereka ada jalur di daerah tersebut yang sangat asyik dengan pemandangan Indah khas pegunungan. Kesempatan pertama kita berangkat dengan naik mobil mas Danto & mas Farkhan dengan start dari sekitar wilayah goa Cerme, Selopamioro, Bantul (Nantinya kita lebih suka start dari perempatan Jl. Bantul – Panggang, di atas pertigaan ke SPN Selopamioro). Saat itu saya masih memakai sepeda XC-trail Patrol 511 yang sekarang sudah saya jual dan ganti ke Giant Reign, dan bapak-bapak dari Sukudholl di dominasi dengan Santacruz hitam-nya. Sampai saat ini saya sendiri sudah empat kali mengarungi jalur ini, tiga kali bareng pak Koes dkk dari Sukudholl dan sekali bareng teman-teman dari Bantul Mountbikers (BMTB). Sekali blusukan sore sampai maghrib dalam kondisi hujan dan blusukan terakhir kita mencoba mencari jalur baru dengan start sedikit lebih timur dari titik start biasanya.

Jalanan aspal mengawali jalan

Jalanan aspal mengawali jalan

Titik start dimulai dari perempatan jalan lintas Bantul-Panggang di mana kalau kita ke arah selatan kita menuju arah goa Cermai. Di perempatan (Terdapat warung kelontong, Warung mie ayam dan Salon di dekatnya) kita ambil ke arah utara dengan jalur masih aspal mulus sampai ke jalur cor block dua jalur dan mulai terlihat pemandangan lembah di sekitar-nya, kiri-kanan adalah tanaman hutan pemerintah (kayaknya sih). Perjalanan dilanjutkan masuk ke kampung Turunan (Sesuai banget namanya dengan daerahnya, hehehe), selepas kampung kita disambut jalan batu gamping sedikit nanjak. Di salah satu tikungan terlihat hamparan lembah Sungai Oyo yang terlihat Indah dari ketinggian, dan sudah bisa ditebak akhirnya keluarlah kamera dari backpack dan photo session pun di mulai :D

Serasa di mana gitu...

Serasa di mana gitu…

Foggy day...

Foggy day…

Berpose dulu sebelum Rock 'n Roll sampai sungai di bawah sana

Berpose dulu sebelum Rock ‘n Roll sampai sungai di bawah sana

Dari tempat foto-foto selanjutnya jalanan full turunan, It’s a downhill time baby !!! Pertama jalan berupa turunan macadam meliuk-liuk, sepeda bisa dipacu kencang (tapi awas ban bocor kena batu gamping tajam), kalau masih kurang kencang bisa ditambah dengan pedaling. Semakin ke bawah jalur semakin halus, jalur macadam berubah menjadi jalur tanah berumput, di beberapa bagian terdapat gundukan tanah yang bisa jadi jump alami, dengan speed tinggi kita bisa sedikit bergaya dengan jumping. Saat hujan jalur menjadi semakin menarik karena licin dan cipratan-cipratan tanah basah terbang mengenai muka, jadi jangan lupa memasang fender untuk menahan cipratan tanah basah saat hujan.

Mas Farkhan langganan praktek tambal  ban di sini :D

Mas Farkhan langganan praktek tambal ban di sini :D

Jalur downhill high speed berakhir di desa Kedung Wanglu yang masuk ke wilayah Panggang, Gunung kidul. Di sini ada beberapa pilihan,
pertama : menikmati suasana desa di lembah dengan menikmati aliran sungai Oyo sambil makan masakan desa di warung Mas Prih. Warung ini menjajakan beraneka macam gorengan seperti bakwan, mendoan, tahu susur dll. Yang tak boleh di lewatkan adalah nasi pecel plus wader yang lezat banget. Di lain kesempatan kita sempat menjajal masakan yang simple dan sederhana yaitu tempe garit goreng dan sambal terong plus nasi anget yang diluar dugaan ternyata nikmat sekali meski sederhana.

Tim Santacruz Syndicate mampir warung mas Prih

Tim Santacruz Syndicate mampir warung mas Prih

"Pak Bondan" sedang njajal menu...maknyuss

“Pak Bondan” sedang njajal menu…maknyuss

Bersantai sejenak, melepas tawa dan penat di warung mas Prih, Kedung Wanglu

Bersantai sejenak, melepas tawa dan penat di warung mas Prih, Kedung Wanglu

Pilihan kedua adalah : melanjutkan perjalanan bersepeda, atau kalau mau foto-foto bisa berfoto ria dengan background sawah ataupun sungai Oyo yang kalau sedang tidak banjir airnya bening, segar dan berwarna hijau karena lumut. Jalur selanjutnya di dominasi jalur XC dengan beberapa tanjakan dan turunan pendek, kadang berbatu, kadang dibeberapa bagian jalan kita harus menuntun sepeda karena tanjakan berbatu-batu besar yang susah ditaklukkan dari atas sadel.

Masih kuat gowess

Masih kuat gowess

Capek Om, tuntun aja yuukk...

Capek Om, tuntun aja yuukk…

Jalur ini akan berakhir di desa Kedung Jati yang terdapat instalasi pompa air sungai untuk mensuplai air ke Sekolah Polisi Negara (SPN) Selopamioro. Titik ini biasanya menjadi titik pemberhentian karena rata-rata yang baru pertama kali blusukan di sini merasa capek sebelum nuntun sepeda naik ke sebelah rumah pompa. Tapi jangan khawatir karena pemandangan di sebelah rumah pompa cukup menyejukkan karena kita berada di atas tebing yang dibawahnya mengalir Sungai Oyo.

Si Reni nampang dulu..baru saja kita melintasi pinggiran sungai di bawah sana

Si Reni nampang dulu..baru saja kita melintasi pinggiran sungai di bawah sana

Capek euy...

Capek euy…

Jempol deh buat jalur ini...

Jempol deh buat jalur ini…

Oke Lanjut,,,garis finish sudah dekat. Dari rumah pompa kita turun lewat tebing batu, atau kalau tidak berani bisa lewat jalan setapak kampung (turunan berbatu yang gak mudah juga sih sebenernya..hehe). Selanjutnya kita akan dibawa bersepeda di pematang sawah, lalu akan menemui sebuah rumah di pinggir sungai (heran juga ada rumah di situ, akses jalannya susah banget padahal). Setelah rumah saatnya ekstra hati-hati, sebab jalur selanjutnya adalah jalan setapak batu selebar kurang lebih 1 meter (banyak kurangnya sih !) dengan di satu sisi adalah tebing batu dan sebelah kanan adalah jurang langsung ke sungai Oyo (lihat video aja kalau gak percaya :D). Pokoknya hati-hati banget kalau melintas disini, salah-salah nyebur sungai.

Mas Farkhan & Santacruz Butcher

Mas Farkhan & Santacruz Butcher

Pak Koes & Santacruz Heckler

Pak Koes & Santacruz Heckler

Foto kadang menipu, aslinya jalanan batu ini lebih curam lo :P

Foto kadang menipu, aslinya jalanan batu ini lebih curam lo :P

Finish dari jalur ini adalah jembatan gantung selopamioro yang pernah beberapa kali nongol di TV buat iklan (Axis, partai N*sdem dll…lupa de el el nya apaan aja :D). Kalau mau ke makam raja-raja kita tinggal nyebrang dan lanjutkan perjalanan ke barat trus nanti ke utara, gak jauh kok. Kalau pernah ke Kebun Buah Mangunan silakan saja amati ke arah utara di atas bukit akan Nampak pagar gardu pandang kebun buah, dan bagi yang suka narsis foto2 atau yang suka foto landscape boleh lah mampir di sini sambil foto-foto.

Senja menutup hari

Senja menutup hari

Demikian laporan blusukan kita, total jarak tempuh sekitar 11 km. Untuk gambaran selengkapnya silakan bisa disimak di video yang telah saya upload di youtube berikut ini, video yang saya ambil dengan Gopro ini saya ambil saat gowes bareng dengan teman-teman BMTB, jadi personelnya gak matching dengan yang ada di foto2 di atas (maaf kompresan video-nya jelek)

Kalau tertarik pengen blusukan disini bisa menghubungi kita di blog ini, kalau waktu memungkinkan dengan senang hati kita akan temani blusukaners dolan ke tempat ini.

Fun Downhill MTB di Desa Tertinggi Kaki Gunung Merbabu

2 Comments

Minggu 27 Juli 2012 lalu komunitas sepeda Bantul Mountbikers (BMTB) yang saya ikuti mengadakan acara loading ke Kopeng, Jawa Tengah. Acara ini dimaksudkan sebagai survey lokasi untuk loading dengan peserta lebih massal yang di rencanakan di adakan sebelum bulan puasa nanti. Kita nebeng ke komunitas Freeride Yogyakarta yang sudah terbiasa loading kesana. Pagi jam 5.00 kita sudah berkumpul di Dinas Sosial Bantul tempatnya mas Hary Ahmada untuk berangkat dengan mobil pick-up. Setelah menunggu rombongan dari Jogja di Jombor, berangkatlah kita berlima plus sopir ke Kopeng via Magelang. Pemandangan sepanjang jalan sangat menarik dinikmati karena background pemandangan gunung Merbabu, Sindoro dan Sumbing yang menawan.

Image

Sepeda dan rider semua duduk di bak belakang

Setelah sampai di parkiran track downhill White Cross/Salib Putih, kita pun bersiap untuk melanjutkan perjalanan loading ke dusun Ngaduman yang menurut informasi mempunyai elevasi lebih kurang 1800 mdpl. Perjalanan dengan pick-up pun di mulai melewati jalan kampung yang semakin lama semakin menanjak curam. Jalanan aspal  berganti dengan tatanan batu dan lebar jalan yang semakin menyempit. Sebelum mencapai puncak kita sempat di buat jantungan karena pick-up kita tidak kuat nanjak dan sempat sedikit melorot. Untuk melanjutkan perjalanan kita pasang ganjal sambil kita dorong mobil rame-rame dan Alhamdulillah mobil bisa melanjutkan perjalanan meskipun kita harus ngos-ngosan dibuatnya.

Image

Sampai di parkiran track downhill, foto-foto dulu …

Image

Sepeda teman-teman dari Jogja keren-keren euy, bikin pengen…

Image

Mumpung lagi di sini, nampang dulu :D

Sampailah kita di titik start di desa tertinggi di kaki gunung Merbabu ini. Start di mulai dari jalan di samping sebuah gereja di dusun Ngaduman ini. Sebelum kita descending terlebih dulu kita isi kas untuk pengelolaan jalur sepeda sebesar Rp. 2000 per sepeda (menurut info track alam ini di urusi oleh pemuda setempat). Di awali dengan doa bersama dan dilanjutkan dengan pembagian urutan dan pengenalan leader akhirnya meluncurlah kita menuruni track alam yang menantang ini. Sebelum menuruni track ini sempat khawatir melihat elevasi dan kemiringan lerengnya di tambah lagi dengan berita seminggu sebelumnya dimana ada salah satu peserta loading patah kaki di track ini. Tetapi setelah kita nikmati hanya satu kata yang bisa kita katakan yaitu : Mantap !!

Image

Rehat sejenak, ambil nafas dalam-dalam, regangkan otot yang tegang

Image

Minuman dingin, udara sejuk, dan pemandangan alam yang indah…perfect match

Image

The Rigs….

Singletrack di tengah hutan cemara ditingkahi dengan variasi drop sampai ketinggian 1 meter, tikungan-tikungan flowing maupun patah, terkadang kita harus nuntun sepeda untuk melintasi drop yang terlalu tinggi untuk kemampuan kita. Mengukur kemampuan diri adalah penting di sini mengingat resiko yang besar untuk cedera apabila kita terbawa nafsu menghajar track yang belum kita kenal sebelumnya dengan kemampuan yang belum terlalu mumpuni). Untuk yang sudah terbiasa dan mahir tidak masalah kalau mau menghajar drop-drop yang menurut kita “horror” tersebut. Jemari terasa pegal-pegal dan jadi kaku karena terus menerus dimainkan untuk mengerem depan dan belakang untuk mengontrol sepeda. Kita sempat istirahat sebentar untuk mengambil nafas, meregangkan otot yang kaku sekaligus menikmati pemandangan indah dan mengabadikan momen dengan kamera.

Perjalanan di lanjutkan dengan masih melintasi track di dalam hutan namun lebih terbuka dan terdapat banyak jalur yang bisa di pilih, bukan lagi singletrack. Track hutan berakhir di bagian hutan bertanah liat dan berlumut licin. Perjalanan kemudian dilanjutkan melintasi perkampungan dengan variasi jalan singletrack dan turunan macadam yang memungkinkan sepeda berpacu sangat kencang.

Perjalanan berakhir di track downhill Salatiga yang di pakai untuk event kejuaraan UKDI yaitu White Cross Downhill Track atau track downhill Salib Putih. Trek ini sangat mulus dan menyenangkan, berm-berm nya memungkinkan sepeda di pacu cepat di tikungan, drop-nya cukup bersahabat dan bagi yang berani bisa mencoba melintasi lintasan Man Elite yang di penuhi jump dan gap.

Image

Finish Line….Chequered Flag !!!

Di garis finish kita istirahat sebentar sambil menunggu mobil jemputan. Tidak rugi kita jauh-jauh dari Bantul ke Salatiga untuk menikmati fun downhill kali ini. Kombinasi dari pemandangan indah untuk refreshing mata, tantangan mengendalikan sepeda di track alam yang menantang, penyaluran adrenalin dan sosialisasi dengan komunitas sepeda yang lain.

Rangkuman fun downhill ini sudah ada di Youtube : http://www.youtube.com/watch?v=XXQ-x-IKV8c&feature=related

Sepeda Santai Telusur Selokan Mataram Barat

5 Comments

Sabtu pagi 12 November 2011, saya bersama dengan Nova dan mas Gun memutuskan untuk mencoba bersepeda menelusuri selokan mataran ke arah barat. Pada awalnya saya yang rajin searching tempat-tempat menarik ataupun blog tentang jalan-jalan menemukan sebuah cerita di blog mengenai penelusuran selokan mataram baik dengan sepeda maupun motor. Singkat cerita, dengkul saya yang sudah mulai terbiasa mengayuh sepeda untuk jarak lumayan jauh (tapi belum kuat untuk nanjak :D) gatal untuk mencoba trek blusukan melalui selokan mataram ke barat ini.

Goweser alay KW super :D

Perjalanan di mulai pukul 5 pagi dari rumah saya di Bantul, pertama saya ke rumah Nova yang berada 5 km di sebelah utara, kemudian kita ketemu dengan mas Gun yang kita suruh menunggu di pom bensin Diro (tapi dia malah ke pom bensin Pocung, yang kurang lebih berada 1 km di sebelah utara). Dan yang mengejutkan, mas gun memakai Polygon Sierra punya istrinya, jadi terlihat aneh melihat sosok segede itu naik sepeda cewek. Kita berdua sampai ngakak melihat fenomena aneh ini :D

Perjalanan dilanjutkan melalui sebelah barat pabrik gula Madukismo, nyebrang ring road, terus ke utara lagi sampai di universitas PGRI dan lanjut terus sampai jalan Godean. Mas Gun mulai keteteran di belakang, bahkan sampai tertinggal jauh dan harus kita tunggu sampai akhirnya setelah kita nyebrang ring road di barat pasar Tlogorejo setelah kita tunggu lama tidak muncul, malah sebuah sms yang datang, ternyata mas Gun menyerah dan pulang (what a shame :D). Perjalanan berlanjut sampai perempatan pertama ambil ke utara sampai ketemu selokan mataram dan perjalanan ke barat pun di mulai.

Di perempatan ring road pasar Tlogorejo ini salah satu peserta mundur dari perjalanan

Sebelumnya saya hanya tahu selokan mataram sebatas selokan yang berada di utara kampus saya di UGM, ternyata selokan ini panjang juga. Gimana gak panjang kalau selokan inilah yang menghubungkan sungai Progo di barat dengan sungai Opak di timur. Sejarah selokan mataram berawal dari inisiatif Sri Sultan Hamengkubuwono IX yang tidak menginginkan rakyat Yogyakarta menjadi Romusha, sehingga tercetuslah sebuah ide membuat kanal yang menghubungkan sungai Progo dan Opak, sehingga rakyak Jogja bisa bekerja membangun kanal ini tanpa harus ikut romusha. Proyek awalnya bernama kanal Yoshiro sesuai dengan arsitek Jepang perancang kanal ini, panjang kanal atau selokan mataram ini kurang lebih 31 km, membentang dan mengairi daerah persawahan di sekitarnya. Menurut cerita, Sunan Kalijaga pernah berujar bahwa Yogyakarta akan makmur apabila sungai Progo dan Opak di kawinkan. Mungkin ada benarnya meskipun tidak secara harfiah keduanya bersatu.

Sepeda kesayangan sampai ke selokan Mataram

Lanjut ke perjalanan sepeda, akhirnya kami sampai juga desa Bligo, Ngluwar, kabupaten Magelang di mana muara selokan mataram berada. Karena sudah sangat lapar (sepanjang selokan mataram jarang warung, kalaupun ada karena masih pagi rata2 masih tutup), kita putuskan untuk mencari warung makan dulu, tapi tetap saja tidak ketemu. Akhirnya perjalanan kita akhiri di jembatan Duwet yang menghubungkan Bligo dengan Kalibawang. Jembatan ini sempit sekali, hanya cukup satu kendaraan lewat bergantian. Masuk ke Kalibawang, aroma durian langsung tercium, yah memang daerah ini termasuk penghasil durian.

Sepeda di batas kota

Sepeda kesayangan sampai di jembatan Duwet

Sang penunjuk jalan

Odometer menunjukkan 35 km sampai di ujung jembatan duwet, artinya masih ada 35 km lagi untuk sampai ke rumah, dengan matahari yang mulai menyengat. Kita susuri jalan pulang dan Alhamdulillah menemukan warung makan yang sudah buka. Jalan pulang kita lewat sedayu dan pajangan, bantul. Sepanjang jalan keringat semakin deras seiring dengan semakin naiknya matahari, dua kali kita mencoba mengambil jalan mblusuk ke kampung tetapi berakhir tragis karena jalan buntu. Di sepanjang jalan menuju pajangan siksaan sesungguhnya datang. Panas menyengat dengan medan jalan panjang di tengah sawah tanpa peneduh plus terdapat beberapa tanjakan. Air minum sudah habis dengan kerongkongan semakin kering, sampai akhirnya bisa dengan selamat sampai ke rumah lagi pada pukul 11 siang. Total jarak tempuh 70 km (rekor pribadi), dan tidak mengherankan saat mematut diri di cermin kelihatan banget muka saya gosong dan lengan belang. Badan dan terutama kaki terasa tegang dan pegal-pegal, tapi entah kenapa pada sore hari pegal-pegal sudah hilang dan berganti dengan badan yang terasa segar…..Ternyata aku makin cinta, cinta bersepeda :D

Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,641 other followers