Tanggal 20 November 2010 lalu, bersama dengan dua orang teman saya berkunjung atau kita lebih senang menyebutnya touring ke jajaran pantai Wonosari, Gunungkidul, Yogyakarta. Di saat erupsi merapi sudah mereda namun masih menimbulkan duka bagi masyakat Jogja pada khususnya, di saat abu vulkanik masih tersisa di sekujur Jogja, kami bertiga berjalan menyusuri jalan sepanjang pantai yang terbentang panjang di mulai dari Panggang sampai Sadeng. Touring kali ini adalah yang kesekian kali kami lakukan, entah kenapa meskipun kami cukup sering berkunjung, tiada rasa bosan untuk kembali menyusuri jalan naik-turun dan berkelok-kelok itu. Kali ini kami memakai dua motor, dan di sinilah asyiknya menempuh jalur berbukit ini dengan motor, jalanan meliuk-liuk membuat sensasi bermotor sangat terasa, bagaimana kita menikmati setiap alur tikungan yang naik-turun, mengatur gas dan rem dengan seksama dan merasakan hempasan-hempasan shock breaker yang sedang bekerja keras meredam getaran demi kenyamanan kita sang pengendara.

 

Singkat cerita, perjalanan di mulai dari Bantul langsung ke Sadeng (pantai paling ujung timur), odometer menunjukkan kalau jarak dari Bantul (rumah saya) ke Sadeng adalah sekitar 95 km. Sebelum sampai Sadeng kami di suguhi pemandangan muara sungai Bengawan Solo Purba (katanya geologist sih gitu), memang terlihat pada lembah di antar dua bukit tersebut terbentang hamparan yang mirip dengan penampakan sebuah sungai, dan sungai tersebut sepertinya bermuara di Sadeng (jadi saat kita menyusuri jalan menuju Sadeng, mungkin di jaman Fred Flinstone dulu kala daerah tersebut penuh dengan ikan-ikan purba…hehehe).

 

“Muara sungai Bengawan Solo purba meliuk membelah bukit dan akhirnya bermuara di Samudera Hindia”

 

 

 

 

Pantai Sadeng adalah pantai Nelayan, di mana terdapat juga tempat pelelangan ikan. Menurut cerita-cerita Sadeng juga salah satu spot memancing favorit dari mancing mania Jogja. Saat kami tiba di Sadeng, cuaca cerah dan panas. Terdapat beberapa perahu nelayan yang sedang bersandar pada dermaga yang berisi air berwarna kehijauan. Tidak ingin menyia-nyiakan momen, langsung kami abadikan gambar tersebut di kamera masing-masing.

 

 

“Ambil kamera dan langsung jeprat-jepret di pinggiran dermaga berair hijau nan apik ini”

 

 

 

Selesai dari Sadeng kami putuskan next destination adalah pantai Indrayanti, yang berarti kita kembali ke arah kita berangkat. Kami melewatkan tidak mengunjungi pantai Wediombo dan Siung yang berada di sebelah barat Sadeng dengan pertimbangan waktu. Setelah berkendara dengan kecepatan sedangĀ  karena salah satu motor terindikasi bocor oli akhirnya sampailah kami di pantai Indrayanti. Sedikit informasi mengenai pantai ini, tempat ini adalah sebuah obyek wisata pantai yang terbilang baru di Wonosari. Saat saya berkunjung ke Wonosari sekitar tahun 2008 lalu, pantai ini sudah ada tetapi saat itu sepertinya baru tahap-tahap awal pembangunan. Sekarang ini pantai Indrayanti jauh lebih bagus daripada dulu, di pantai yang menurut cerita yang kami korek dari tukang parkir, pantai ini di miliki oleh seorang pengusaha dari Jogja dan di namakan sesuai dengan nama istrinya (that sweet :P) ini terdapat beberapa gazebo, penginapan, mini cafe dan penyewaan Jet Ski.

 

 

What a lovely beach, isn’t it?

Pemandangan pantai Indrayanti dari bukit karang di sebelah baratnya, ternyata pantai ini cukup menarik minat wisatawan asing juga”

 

 

 

Masih menurut pak tukang parkir, tarif menginap di pantai Indrayanti adalah 650 ribu untuk kamar yang berada di atas (lantai 2) termasuk gratis Jet Ski selama 15 menit, dan 350 ribu untuk kamar biasa (lupa nanya apakah ada gratis Jet Ski juga). Sedangkan kalau cuma mau naik Jet Ski tarifnya adalah 150rb per 15 menit. Cukup murah bule sepertinya, kalau buat kami warga lokal (tetangga kabupaten dink :P) cukuplah kita singgah sebentar, menikmati hamparan pasir kecoklatannya yang bersih, dan menyeruput sedikit coke di salah satu gazebo-nya. Oya, tentunya tidak lupa untuk hunting foto.

 

“Pantai yang bersih, gazebo yang asri dan pemandangan yang inspiring membuat kawan-kawan fotografer ini begitu bersemangat mengabadikan pemandangan indah ini”

 

 

 

 

 

 

 

“Pemandangan dari salah satu sudut resort, deretan bangku di bawah pohon perdu, sungguh syahdu suasana yang tercipta”

 

 

 

 

 

 

 

 

“Pantaiku bersih….. buanglah sampah pada tempatnya”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Indrayanti’s Coastline, pantainya bersih berair bening”

 

 

 

 

Selesai sudah kunjungan di pantai Indrayanti yang elok asri ini. Menurut saya pantai baru ini highly recommended bagi yang suka wisata pantai. Pantai yang bersih, pasir putih kecoklatan, ombak yang cukup bersahabat, hamparan karang yang indah, penginapan dan gazebo yang asyik dan banyak hal-hal menarik yang bisa di eksplore dari pantai ini tentunya merupakan daya tarik yang bagus. Oke, selanjutnya perjalanan di lanjutkan ke Pantai Baron. Pada intinya di pantai Baron tujuannya adalah makan, karena di Baron banyak penjual makanan yang di dominasi sea food.

Sedikit gambar dari Baron :

 

 

 

 

 

“Pemandangan dari atas pegunungan karang pantai Baron”

 

 

 

 

 

 

 

 

“Bila kita mengalihkan pandangan ke arah timur Baron, terlihat deretan pantai Kukup, Krakal dan lain-lain”

 

 

 

 

 

Demikian laporan touring dan hunting kami kali ini. Pantai di daerah Wonosari memang selalu memunculkan ingatan yang kuat akan keindahannya, yang seakan membuat kita tak bosan untuk sekedar mengunjunginya kembali. Sebuah potensi wisata yang besar bagi kabupaten yang terkenal sering mengalami kekeringan ini. Bahkan menurut teman saya sebagian pantai di Wonosari ini keelokannya melebihi pantai di Bali, saya tidak bisa berkomentar soal hal itu mengingat saya belum pernah berkunjung ke Bali. Semoga berguna…..

 

Jakarta, 3 Dec 2010