Mirip lagu bang toyib, dua kali lebaran sempat tidak pulang ke rumah, itulah yang terjadi padaku beberapa tahun yang lalu. Tiga tahun yang lalu lebaran plus sebulan penuh puasa di ‘rayakan’ di inggris dalam rangka training dua bulan penuh. 2 tahun lalu alhamdulillah gantian Amerika Serikat yang menjadi tempat ‘merayakan’ hari raya idul fitri. Boleh dibilang di dua lebaran itu, hari raya di rayakan dengan suasana yang ganjil, tapi dibalik itu terselip sebuah pengalaman baru yang menarik dan tak terlupakan.


Lebaran di inggris boleh dibilang ‘garing’ mengingat waktu itu hari ied bertepatan dengan pelaksanaan weekly test . Lagi pula waktu itu sampai malam hari iedul fitri, di mana teman-teman di rumah merayakan dengan takbiran dan ‘oncor-oncoran’, malam itu di ‘rayakan’ dengan belajar sampai suntuk, plus belum tahu kapan hari lebaran, apakah esok hari atau lusa jadi malam itu masih tarawih. Akhirnya setelah menunaikan sholat tarawih, teman dari Malaysia membagi informasi kalau lebaran esok hari.
Hari lebaran di’rayakan’ dengan berpusing-pusing di depan laptop mengerjakan soal-soal yang susah, alhamdulillah lolos. Lebaran hari kedua (kalau gak salah hari minggu) barulah ada sedikit perayaan, masak sambal goreng . Daging pakai Irish beef yang empuk, trus santan dan bumbunya pakai bumbu seadanya yang bisa ditemukan di supermarket terdekat (kalau gak salah namanyaTESCO). Jadilah sambal goreng daging ‘Made In Dewek’ pertamaku. Setelah di cicipin, rasanya lumayan tapi terlalu pedas (yang jelas masih kalah dari sambal goreng bikinan ibuku). Lumayan bisa sedikit membawa suasana kampung halaman di Inggris . Sorenya, main ke Robin Hood Castle di Nottingham, asyik.

Dua tahun lalu, H-2 saat orang-orang rata-rata mudik ke kampung halaman, aku malah harus ‘mudik’ ke Amerika Serikat. Acaranya sama seperti tahun sebelumnya di Inggris, training, tapi kali ini Cuma 5 hari. Beruntung sekali waktu transit di Singapore, sempat ketemu salah satu pembalap F1, Nico Rosberg (Williams Toyota), dengan sedikit katrok ngajak ngobrol, basa-basi, nyalamin dan minta foto bareng .
Penerbangan rute Singapore-Moscow-Houston sungguh melelahkan, 22 jam, Cuma 1 jam transit di Domodedovo, Moscow (ternyata bandaranya jorok euy). Nyampe di Houston H-1, langsung nyari taksi dan Hotel (Drury Inns, lebih tepatnya penginapan, bukan hotel). Cerita menarik waktu naik taksi, drivernya adalah imigran asal Ethiopia yang sudah tinggal berpuluh-puluh tahun di AS, namanya Solomon, dan dia adalah penganut Kristen koptik. Selama perjalanan George Bush Intercontinental ke Penginapan yang memakan sekitar 45 menit, kita ngobrol asyik bermacam soal, termasuk soal keyakinannya (jadi inget kepercayaannya Maria di Ayat-Ayat Cinta).
Malam lebaran di penginapan, menu makan adalah makanan wajib orang Indonesia, Mie instant . Jadi bersyukur Mie Instant-ku tidak disita waktu screening di bandara. Oya, waktu di bandara sempet tertahan di imigrasi karena orang Indonesia, dan waktu cek backpack mereka menanyakan Al-Qur’an yang kubawa (dasar paranoid ni orang2).
Akhirnya, Lebaran tlah tiba…dan training di mulai hari itu juga Sarapa pagi ala amerika yang gak jelas, omelete yang ancur, roti2an, susu. Kali ini tidak ada sambal goreng made in dewek lagi . Di pagi itu di penginapan kulihat keluarga Arab (kelihatan dari muka dan sang ibu memakai jilbab), tapi tidak sempat menyapa. Mungkin mereka sedang merayakan Idul Fitri juga …..Eid Mubbarak
Lebaran tahun itu lebih tidak terasa dari lebaran tahun sebelumnya, jadwal training ketat, pulang capek, pengennya tidur. Sempat mencoba makanan meksiko yang terasa aneh di lidah. Untung sempet di ajak jalan-jalan keliling kota Houston sama seorang teman, lumayan.

Akhirnya, Insya Allah Lebaran 1430 H dan 1431H kemarin dirayakan di rumah. Kalau diingat-ingat selama dua kali lebaran di rantau itu aku gak Sholat Ied, trus gak ikut Halal Bi Halal sama keluarga, teman dan tetangga. Alhamdulillah sekarang kesempatan itu datang lagi, meski terkadang terbersit keinginan untuk mencoba pengalaman yang aneh-aneh, lebaran di tempat-tempat lain lagi, tapi tetep No place Like Home