The hanging bridgeIni pengalaman sekitar 9 tahun yang lalu. Sebuah pengalaman yang terkadang mengetuk hati dan mengatakan bahwa kita telah melakukan sesuatu yang sangat berguna dan besar bagi orang lain. Saat kita merasa bahwa Tuhan telah memberikan bantuannya kepada umat Nya lewat diri kita. Kita bukan apa-apa, kita cuma wahana Tuhan untuk memberikan bantuan kepada Hamba Nya.

Alkisah, setelah hiruk pikuk pernikahan kakak, pesta sudah selesai, tinggal beres-beres rumah. Tikar yang kotor perlu di cuci, tempat favorit buat cuci2 tikar adalah sungai di dusun sebelah. Sungai yang bersih dan lumayan besar, juga lumayan terkenal pernah beberapa kali menenggelamkan orang yang berenang di sana. Kisah bermula ketika tikar telah di cuci, dan saatnya sekedar mendinginkan badan di air. Aku yang tidak pintar berenang hanya bermain-main di sungai kecil bersama dengan yang lain, salah satu tetanggaku yang mengaku bisa berenang dengan tiba2 melompat ke arah sungai besar dan ternyata setelah itu kehebohan yang terjadi. Dia terseret arus, sebuah arus pusar di bawahnya menyeret dia ke dalam dan semakin ke tengah. Beberapa kali dia naik dan turun di air, adiknya yang juga ikut di rombongan segera menceburkan diri dan mencoba mengejar. Yap, akhirnya tertangkap, tetapi ternyata keadaan bertambah mencekam karena ternyata sang adik yang lebih jago berenang pun terseret arus.

Ada sekitar 4 orang di atas sungai, melihat peristiwa ini perasaan campur baur karena boleh dibilang tidak ada yang pintar berenang, tetapi melihat dua orang terseret arus dan semakin kelelahan membuat kekhawatiran berubah menjadi kepanikan. Di situasi genting tersebut, entah mendapat ide darimana kupalingkan pandangan ke samping dan belakang sampai akhirnya aku menyadari tepat di belakangku terdapat tumpukan bambu panjang yang sedang di jemur. Segera kuambil dan kujulurkan ke kedua orang tersebut (untung juga bambu-nya panjang tetapi tidak berat), sambil teriak2 meminta kedua tetanggaku itu untuk menggapai bambu tersebut. Alhamdulillah sang adik dapat menggapai bambu yang kujulurkan, seketika itu juga datang bantuan dari kakak-kakak ku untuk menarik bambu tersebut dan keduanya dapat ditarik ke pinggir sungai. Shock terlihat jelas di muka-muka lelah itu, terutama pada sang kakak yang terseret terlebih dulu. Sepanjang perjalanan pulang dia tidak banyak berbicara, mungkin memikirkan akibat terburuk dari kejadian itu.

Cerita ini muncul lagi di benak karena, pagi hari tadi seekor anak kucing liar terperosok dan hampir tenggelam di kolam. Sang induk hanya bisa menunggui dari bibir kolam sambil mengerong-eong keras. Mendapat info dari ibu, langsung menuju TKP dan akhirnya sang kucing kecil bisa dikeluarkan dari kolam dan langsung lari ketakutan. Sebuah kejadian kecil yang membuka memori lama 9 tahun yang lalu.

Terkadang dan hampir pasti kita tidak akan tahu akan apa yang akan terjadi di depan kita besok, satu jam ke depan bahkan satu detik ke depan. Tetapi apapun yang terjadi percayalah kalau terkadang Tuhan menggunakan tangan kita, otak kita atau kaki kita sebagai sarana untuk menyalurkan bantuan Nya kepada yang membutuhkan. Bukan kita yang telah menyelamatkan jiwa seseorang, tetapi Allah SWT lah yang telah melakukan lewat kita. Cukuplah kita sebagai manusia bersyukur karena Tuhan telah memilih kita pada hari ini untuk menjadi sosok yang berguna ….

Di saat kita merasa berguna, ada rasa haru dan bahagia mengisi hati dengan energi. Yaitu energi kita sebagai makhluk yang suka berbagi dan menolong diiringi rasa kesyukuran atas nikmat Tuhan yang telah diberikan ke makhluk-Nya. Andaikan kita terutama saya sendiri adalah orang yang selalu bersyukur..

Jogja, 26 Sept 2009