The Year of Living Dangerously, sebuah film yang di adaptasi dari sebuah novel karya Peter Koch, mengisahkan seorang wartawan Australia bernama Guy Hamilton yang di tugaskan ke Jakarta pada periode tahun 1965 untuk meliput situasi politik yang saat itu sedang panas sebelum dan saat pemberontakan G30S PKI. Film besutan sutradara Australia Peter Weir ini mendeskripsikan suasana Indonesia yang berbahaya melalui interaksi si tokoh utama, Guy Hamilton, yang diperankan oleh aktor terkenal Mel Gibson dengan pemeran-pemeran pendukungnya.

Terkait dengan judul di atas, yang notabene terinspirasi dari kutipan pidato kenegaraan dari presiden pertama RI, Ir. Soekarno, pada 17 Agustus 1964, yaitu “Tahun Vivere Pericoloso”. Bahasa italia tersebut apabila di terjemahkan dalam bahasa indonesia berarti “Hidup dalam situasi berbahaya”. Kenapa saya tertarik mengangkat tema ini adalah berkaitan dengan perkembangan beberapa kondisi yang terjadi di dunia ini, atau untuk lebih ringkasnya saya kecilkan lingkupnya menjadi apa-apa yang sudah, sedang dan akan terjadi di negara Indonesia tercinta ini. Suhu politik yang semakin panas, wakil rakyat yang tidak jelas, rakyat yang apatis akan pemerintah, rakyat yang lapar dan menuntut penghidupan yang lebih baik dan layak dan lain-lain. Dari faktor geografis saat ini bangsa ini sedang di rundung bencana alam yang tidak henti-hentinya. Banjir di mana-mana, gempa dan Tsunami Mentawai dan yang paling menyedot banyak perhatian saat ini adalah meletusnya gunung Merapi di kampung halaman saya, Yogyakarta.

Sudah menjadi pengetahuan umum kalau secara geografis Indonesia terletak di daerah yang termasuk Ring of Fire, daerah dengan potensi bencana alam tinggi, baik itu berasal dari darat, udara maupun air. Baik dalam bentuk angin ribut, tanah longsor, gunung berapi, banjir dll. Masih hangat berita mengenai gempa dan tsunami di kepulauan Mentawai yang memakan korban ratusan orang dan kerusakan infrastrukstur, tiba-tiba dari bumi Mataram, gunung berapi teraktif di dunia, Gunung Merapi yang sejak 2006 tertidur tiba-tiba mengamuk dan menghancurkan dan pemukiman tenang dan damai di kaki-kaki gunung ikon kota Yogyakarta ini. Sudah lebih dari seratus orang menjadi korban, termasuk sang juru kunci, Mbah Maridjan. Rumah-rumah, pohon, dan ternak hangus terbakar seperti belukar. Sampai saat ini Merapi belum menunjukkan tanda-tanda penurunan aktivitas dan terus mengeluarkan awan panas, materi pyroclastic, lahar dingin dan tentunya menghadirkan rasa was-was bagi warga sekitarnya.

Amukan Merapi

Tidak ada tempat yang aman di dunia ini, bahkan rumah yang biasanya menjadi tempat teraman bagi kita terkadang tidak mampu menahan gejolak alam. Setiap saat setiap waktu hidup terus berada dalam ancaman entah kita menyadarinya atau tidak entah bahaya itu jauh atau justru sudah berada di samping kita. Hanya dengan bersikap waspada dan banyak berdoa kepada Yang Maha Kuasa kita senatiasa kuat dan tabah dalam menghadapi segala macam cobaan berupa ketakutan dan kekhawatiran. Insya Allah

“Like or dislike we life in a dangerous world, but every creatures is a survivor”

– Malacca Strait, Nov 9th, 2010 –