Saya tergelitik untuk menulis tulisan ini dengan judul seperti di atas, namun bukan berarti bahwa kita harus selalu malu dan rendah diri dari negara tetangga kita itu, tetapi lebih sebagai penyemangat kita (buat saya sendiri terutama) agar bisa berbuat lebih baik untuk negeri ini. Cerita bermula saat saya di tugaskan untuk mengikuti seminar di Kuala Lumpurtanggal 13 – 16 Juni 2011 lalu. Ini bukanlah kunjungan pertama saya ke luar negeri, tetapi merupakan kunjungan pertama saya ke Malaysia, negeri yang sering di katakan serumpun dengan Indonesianegeri kita. Pertama sampai di Bandar udara Internasional Sepang saya sudah sedemikian takjub dengan kemegahan dan kerapihan dari Bandar udara yang menurut cerita salah satu tujuannya di bangun adalah untuk mensupport GP Formula 1 di sirkuit Sepang yang terletak tidak jauh dari bandara ini. Saya mempunyai quote karangan saya sendiri yaitu : Untuk melihat kemajuan suatu Negara, lihatlah dari Bandaranya. Meski mungkin banyak yang tidak setuju tetapi selama ini cukup terbukti kalau Negara yang Bandar udaranya bagus, infrastrukturnya juga bagus (kalau tidak setuju ya silakan saja..hehehe). Sepanjang perjalanan dari Bandara keKuala Lumpur jalan tol-nya lebar sekali, tidak ada macet (paling tidak saat itu, kurang tahu di jam-jam yang lain). Masuk Kuala Lumpur terlihat menara kembar Petronas yang menjadi landmark baru Malaysia berdiri gagah dan cemerlang, jalanan lebar dengan gedung tertata rapi, dan uups tepat sebelum sampai di hotel taksi yang kita tumpangi di hadang oleh polisi, rupanya si driver tidak sengaja menerobos lampu merah, jadilah dia terkena tilang (pada perjalanan pulang akhirnya kita tahu bahwa dia terkena denda 150 ringgit  yang dia bayar di kantor polisi…tidak langsung bayar di tempat).

 

Salah satu sudut kota Kuala Lumpur yang bersih dan teratur

Kegiatan seminar berjalan lancar, dan selama dua hari awal terkurung di dalam hotel karena jadwal seminar yang ketat. Akhirnya setelah seminar selesai kita berkesempatan untuk jalan-jalan di Kuala Lumpur, baik menggunakan taksi, LRT maupun jalan kaki. Dari ketiga modus transportasi tersebut ketiganya memberikan kesan bahwa Kuala Lumpur (dan Malaysia secara general) adalah sebuah negeri yang berkembang dengan percepatan tinggi. Jalanan yang bersih, teratur, monorail, kereta underground, trotoar-trotoar yang di sibuki orang-orang termasuk orang asing. Sempat terkejut ketika di beritahu pelanggaran menyebrang zebra cross bisa masuk penjara dan denda!!

Pemerintah sepertinya memang sangat galak kepada warganya, tetapi itu semua adalah untuk kebaikan semua demi terciptanya keteraturan dan ketertiban. Hari selanjutnya saya melihat lagi polisi yang sedang menilang motor-motor yang parkir di sembarang tempat.

 

Melihat semua kemajuan tersebut terlihat sangat kontras dengan tanah air sendiri di mana saat ini para pemimpin di negeri ini lebih sibuk mengurusi diri sendiri maupun kelompoknya. Sang pemegang singgasana Negara sibuk membuat lagu dan album baru, curhat kalau diri dan kelompoknya sedang di serang, sibuk berpidato penuh harapan, klise namun tanpa realisasi. Di level birokrasi para tokohnya berebut kekuasaan dan proyek, korupsi, saling serang sana-sini dan ironisnya menggunakan jargon ‘atas nama rakyat’ (apa betul rakyat sudah merasa di bela?? Saya nggak tuh!!). Di sector yudikasi, kongkalikong dan rekayasa demi uang maupun menghilangkan karakter seseorang atau kelompok tertentu. Bahkan dana haji pun di korupsi, bahkan kementrian pemuda dan olahraga yang harusnya membawa spirit pemuda yang dinamis dan sportif pun terkena skandal korupsi juga, dan kasus-kasus lain. Masalah lain yang belum selesai adalah soal perebutan kekuasaan di PSSI yang justru mengancam kelangsungan Sepakbola Indonesia sendiri, yang beresiko semakin membenamkan reputasi sepakbola indonesia yang memang lebih banyak redup daripada terangnya. Di tingkat masyarakat, anomali juga semakin banyak di jumpai : Seorang ibu di usir dari kampungnya karena mengungkapkan kasus contek masal yang di paksakan seorang guru kepada anaknya, suporter bola yang semakin liar, balita yang merokok dan segudang keanehan lain yang sampai saya lupa mengingatnya karena saking banyaknya (atau mungkin memory saya yang terlalu kecil..hehe)

Suasana salah satu sudut Kuala Lumpur di malam hari

 

Underline adalah : bagaimana mungkin negara kita berjalan di arah yang baik apabila hal-hal tidak penting yang menjadi perhatian kita selama ini. Pemerintah sibuk bertarung di antara mereka sendiri untuk melanggengkan maupun merebut kekuasaan, sibuk mengeruk kekayaan negara, korupsi, kolusi dan rekayasa hukum untuk keuntungan pribadi dan golongan mereka sendiri. Di tingkat masyarakat saat ini disibukkan juga dengan korupsi di level lebih bawah, sibuk ngurusi masalah selebritis, tiap hari meminum racun dari TV bernama infotainment dan sinetron tidak bermutu dan immoral, nonton sepakbola eh dapatnya tinju massal, nonton sidang wakil rakyat yang di dapat malah jadi ajang narsis wakil rakyat dan bahkan ajang saling lempar umpatan. Hampir tidak ada teladan yang baik saat ini, TV mungkin adalah media terhebat dalam memberikan pengaruh, tetapi acara TV saat ini di tebari dengan tayangan sinetron yang kebanyakan bercerita tentang kehidupan mewah, jauh dari realitas, tidak logis dan sering tak bermoral. Belum lama kemarin telah di langsungkan lomba robot antar universitas yang di adakan di Yogyakarta, namun apa yang terjadi? Seingat saya tidak ada satupun stasiun TV yang mau menyiarkannya secara langsung. Banyak juara-juara lomba ilmu pengetahuan dari Indonesia, tapi berita tentang mereka ternyata tak cukup menggusur Nikita Willy and the Gang dari layar kaca kita. Padahal kalau berpikir secara logis, tayangan tentang robot, teknologi, cerita-cerita tentang para pemenang dll tersebut akan memotivasi para bakat-bakat muda, dan anak-anak kecil yang butuh penyemangat dan teladan dari bangsanya sendiri.

 

Kembali ke soal Malaysia, dahulu kala menurut cerita yang saya dengar, banyak Malaysia banyak mendatangkan tenaga pengajar dari Indonesia, Petronas juga belajar dari Pertamina. Tapi sejarah mencatat bahwa kemajuan yang di alami Malaysia jauh lebih terlihat kasat mata daripada negara kita. Terlepas dari asumsi saya bahwa tentunya ada juga ketidakpuasan dari rakyat Malaysia terhadap pemerintahnya (ingat kasus Anwar Ibrahim dan mungkin kasus-kasus yang lain), tetapi saya percaya bahwa mereka telah melakukan pekerjaan yang hebat dalam membangun bangsanya. Mereka sudah bisa membangun sirkuit kelas dunia dan membawa balapan paling prestisius, Formula One, ke sirkuit Sepang. Perusahaan minyak plat merahnya sudah membahana di dunia. Tingkat kepercayaan internasional yang tinggi (tiap tahun mereka di datangi tim sepakbola kelas dunia, di manaIndonesiamau mendatangkan Manchester United saja tidak jadi karena kasus bom).

 

Landmark Malaysia modern : Petronas Twin Towers

Terlepas dari berbagai macam konflik yang pernah maupun akan terjadi antara Indonesia dan Malaysia, mulai dari jaman presiden Soekarno, masalah perbatasan, masalah budaya Indonesia yang di klaim Malaysia dll, harus kita akui bahwa saat ini secara kasat mata di , pandang dari segi pembangungan Malaysia lebih maju dari Negara kita, pahit memang. Oleh karena itu pula mungkin kita menjadi sensitive dan segera terpancing emosi saat terjadi konflik dengan negara tetangga ini. Mengambil analogi persaudaraan dalam keluarga, terkadang kita menjadi sangat sensitive apabila di sindir oleh saudara kita yang lebih sukses akibatnya bisa konstruktif maupun destruktif, Konstruktif apabila sindiran tersebut menjadi penyemangat untuk berhasil dan destruktif apabila iri hati tersebut menjadikan sebuah permusuhan. Dalam hubungan dua Negara yang di katakan serumpun ini hal tersebut saya rasa juga berlaku, tinggal bagaimana kita menyikapinya. Harapan kita adalah Negara kita menjadi Negara yang lebih baik, dengan pemimpin-pemimpin Negara yang benar-benar bekerja untuk kesejahteraan rakyat dan kejayaan bangsa, rakyat yang semakin dewasa, bersemangat, berprestasi dan bermoral tinggi.

Tulisan ini tidak di tulis dengan data-data berupa angka maupun grafik tetapi lebih berupa pengamatan pandangan mata dan asumsi pribadi, selain itu sampel yang di gunakan di sini hanya kota Kuala Lumpur saja dan tidak mencakup kota yang lain (tapi menurut saya sudah cukup mewakili, paling tidak perbandingan apple to apple antara Jakarta – KL), mohon maaf apabila mungkin ada kesalahan fakta, atau mungkin statement yang ngawur. Saya bukan ahli politik, sosiolog, antropolog, ahli hubungan internasional apalagi seorang presiden, saya hanyalah orang biasa dan bukan siapa-siapa yang ingin menyuarakan perasaan saya terhadap keadaan negeri tercinta  ini. Tulisan ini saya tujukan kepada diri sendiri, sebagai penyemangat untuk berbuat lebih baik lagi di masa depan. Semoga berguna

 

Kunto Wicaksono

Jakarta 18 Juni 2011