Setelah sekian lama vakum dari kegiatan ‘Lone Rider’ akibat di pasung di Jakarta, akhirnya saat mendapat jatah off kali ini di isi dengan kegiatan mbolang gak jelas di bukit2 sekitaran gunungkidul. Perjalanan pertama adalah ke daerah Sampang, Gedangsari. Di daerah dekat dengan Gantiwarno, Klaten ini terdapat ‘Luweng Sampang’. Seperti biasa, internet adalah sumber dari informasi perjalanan ini. Setelah naik bukit pathuk dan sampai ke pertigaan arah wonosari-nglipar, ambil arah nglipar dan ikuti terus jalan bagus yang ada. Lama kelamaan jalanan semakin naik turun dengan pemandangan kiri kanan sungai dan bukit yang keren. Setelah berjalan tak tentu arah sampailah pada sebuah tanjakan yang sangat tinggi dan panjang dan mulai kehilangan orientasi, untungnya ada kakek pembelah kayu di pinggiran jurang menjadi tempat bertanya (sebenarnya bawa GPS juga, tapi masih gengsi buat pakai, karena inti dari Lone Rider ini salah satunya adalah berjalan dengan menggunakan naluri navigasi…*jiahaha…gayabetul*). Dari informasi yang di dapat ternyata di bawahsanasudah masuk kabupaten Klaten (pantesan saja topografinya sudah beda banget). Dengan petunjuk dari sang Kakek (jangan2 setelah saya pergi sang kakek tiba2 langsung hilang ya? kayak di film-film itu tu…hohoho), berjalanlah sang Vixi menyusuri jalanan aspal berpasir dengan turunan2 dan kelokan tajam di bibir2 jurang yang  terjal ini. Sampai di bawah ternyata ada kampong, dan dari melihat-lihat papan nama di pinggir jalan tahulah bahwa saya sudah sampai desa Sampang. Melewati sebuah jembatan dan ternyata ada 2 jalan, ke kiri dan kanan, secara naluri ambil kanan dan terus menyusuri kampong dan menyadari keanehan, yaitu mulai hilangnya topografi gunungkidul. Akhirnya GPS dan Google Maps harus di pergunakan, dan benar ternyata saya sudah berjalan ke arah Gantiwarno. Langkah selanjutnya, putar balik dan kembali ke arah jembatan tadi, dan terus menyusuri sungai batu kapur sampai akhirnya dari kejauhan terlihat formasi batuan yang pernah saya lihat di foto2 blogger di internet. Yup, sampailah saya di Luweng Sampang.

Ternyata yang di sebut luweng Sampang ini tidak begitu tinggi, mungkin ada sekira 5 meter saja. Dan jauh dari definisi luweng yang saya dengar sebagai mirip sebuah sumur yang besar dan dalam, ternyata luweng ini lebih mirip air terjun mini tetapi dari formasi batuan kapur yang sepertinya tererosi aliran air sehingga membentuk formasi yang menarik. Di lihat dari atas jadi teringat film 127 hours yang dibintangi James Franco, tentang seorang petualang yang suka berpetualang sendirian dan terjebak di sebuah celah batuan dengan tangan kanannya terjepit batu sampai akhirnya dia bertahan hidup selama 127 jam dan keluar dengan cara memotong sendiri tangan kanannya yang terhimpit batu (ngeri banget, kayak film SAW).

 

 

 

Top View Luweng Sampang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perjalanan Lone Rider yang kedua adalah ke desa wisata Bleberan, Playen, Gunungkidul. Menurut kisah2 di blog-blog internet, di desa yang tenang dan asri ini terdapat sebuah air terjun di tepian sungai Oyo, tak hanya itu katanya ada juga sebuah goa bernama Rancang Kencono. Jadilah di siang hari yang panas itu, kembali dengan ditemani vixi, saya naik lagi ke patuk. Sampai di lapangan gading terdapat pertigaan dan saya ambil ke arah Playen. Dari kantor kecamatan Playen belok kanan dan ikuti jalan, tak jauh terdapat plakat berbunyi “Air Terjun 7 km, KKN UGM” (wah lagi ada KKN juga rupanya di sekitar situ). Ikuti jalan halus itu sampai mendekati km 6 jalan sudah mulai berubah bentuk menjadi jalan batu.

Destinasi pertama adalah goa Rancang Kencono. Pertama datang binung nyari pintu masuknya, ternyata mulut goanya ada di atas. Lebih mudahnya silakan lihat foto berikut

 

Sebuah pohon besar tumbuh tepat di tengah mulut goa, tangga masuk berada di belakang pohon

Goa-nya sepi banget, hanya saya sendiri yang di situ pada waktu itu (mungkin karena bukan hari libur juga). Dari pengamatan saya, goa-nya tidak dalam, tapi mungkin saja masih ada jalan masuk lagi mengingat terdapat semacam ruangan lagi di dalamnya, tapi saya tidak berinisiatif masuk lebih dalam karena sebagai Lone Rider tentunya saya sendirian di sana, motor juga tidak ada yang jaga (alasan saja sebenernya, yang benar karena memang rada ciut nyali masuk lebih dalam lagi….hehehe). Ciri khas goa ini adalah pohon besar yang hidup dan tumbuh tapat di tengah lubang goa, nama pohon tertera di sana (mungkin yang ngasih mahasiswa KKN), sayangnya saya lupa nama pohonnya, jadi sebut saja ‘Pohon Besar’….hehehe) Foto2 sebentar dan lanjutkan perjalanan ke tujuan selanjutnya dan yang utama yaitu air terjun Sri Gethuk atau oleh penduduk sekitar juga di sebut air terjun Slompret atau Slempret.

 

Ternyata memang benar kalau kadang petunjuk jalan kadang ada yang menyesatkan, mengikuti petunjuk jalan yang ada ternyata jalan menuju air terjun lumayan terjal dengan batu gamping kecil2 yang licin, terlebih lagi semakin lama jalan semakin jelek dan perasaan sepertinya saya masuk ke kebun tidak bertuan yang rimbun (nanti sewaktu pulang ternyata lewat jalan keluar, jalannya lebih lumyan dan dekat sekali). Alhamdulillah akhirnya terdapat tanda2 keberadaan lembah sungai, dan benar sekali dari kejauhan nampak pemancingan dan akhirnya sungainya pun mulai kelihatan. Awalnya bingung mau naruh motor di mana? Mengingat tidak ada tempat parkir yang representative. Dengan Tanya ke penduduk sekitar akhirnya di yakinkan kalau parkir sembarang tempat aman, walhasil vixi ikut bersanding bersama motor2 penduduk yang sedang ngarit !!

Begitu turun sampai bibir sungai mulai terlihat keindahan tempat ini, air hijau, air terjun yang lebih pendek sudah kelihatan, bentuk2 batuan yang unik menghiasi sungai, dan tak ketinggalan sebuah perahu kecil untuk penyeberangan terparkir di pinggir sungai baru saja selesai mengantar serombongan mahasiswa KKN dari air terjun. Cukup dengan 3 ribu rupiah perahu akan mengantar kita menuju air terjun Sri Gethuk. Dalam perjalanan di sebutkan bahwa ada bagian sungai yang dalamnya 10 meter, dan sungainya sendiri melebar di bawah bukit batu kapur sampai 20 meter !!! Airnya hijau dan jernih, bahkan segerombolan ikan gabus yang besar-besar kelihatan jelas dari permukaan.

Sungai Oyo yang jernih dan hijau

 

 

 

 

 

 

 

Pengarungan sungai oyo sambil melihat formasi batuan unik

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sampailah di air terjun Sri Gethuk, ketinggiannya menurut saya sekitar 20an meter, tidak tinggi tetapi tetap indah, apalagi airnya jatuh tersebar ke batu gamping putih kecoklatan dan langsung menuju sungai Oyo yang hijau. Airnya bersih dan Segar, menurut cerita sih air terjun ini terus mengalir sepanjang tahun (percaya, soalnya saya berkunjungnya juga pada musim kemarau dan air tetap mengalir deras).
Menurut cerita orang local, air terjun dan sekitarnya adalah kerajaan jin tetapi jin di sini suka dengan kesenian. Dari cerita ini pula muncul nama ‘Slempret’ yang berasal dari kata ‘Slompret’ yang berarti terompet. Hal ini di karenakan pada waktu tertentu sering terdengar bunyi terompet dan bunyi-bunyian yang lain dari tempat ini. Sedangkan nama satu lagi yaitu Sri Gethuk, saya juga belum berhasil menggali info dari mana nama ini bermula.

Air Terjun Sri Gethuk

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Air langsung mengalir ke sungai Oyo yang bening dan hijau

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hamparan sungai oyo yang hijau di musim kemarau

Puas mengagumi dan memotret air terjun dan sekitarnya, saatnya kembali. Dengan menyusuri jalur yang sama menggunakan gondola eh perahu😀 kembalilah saya ke tempat semula. Sempat ngobrol2 sebentar dengan bapak2 pencari batu di pinggir sungai sambil potret2 lagi daerah sekitar sungai, akhirnya tibalah saat untuk pulang. Jalur pulang saya mencoba rute lain yang melewati jembatan yang membelah sungai oya menghubungkan gunungkidul dengan Dlingo, Bantul. Seperti biasa, pemandangan pegunungan masih elok dan memanjakan mata. Jalan yang saya ambil adalah yang ke arah patuk menuju daerah Terong, dari sini terus turun ke Segoroyoso dan pulang. Saat cek GPS yang sengaja di hidupkan dari rumah tercatat total jarak 123 km, kecepatan rata2 40 km/jam, top speed 97.5 km/jam. Perjalanan solo yang menyenangkan apalagi tempat tujuannya benar-benar indah sesuai harapan. Salam Lone Rider ….