Setiap kali naik pesawat ada satu benda yang tidak boleh lepas dari tangan saya, yaitu kamera Sony NEX-5 ku. Kamera yang sudah mulai lecet-lecet ini selalu saya keluarkan dan siap memotret moment-moment yang menurut saya menarik selama perjalanan dalam pesawat. Rata-rata pesawat mengudara dengan ketinggian sekitar 30,000 ft di mana pada ketinggian tersebut terbentang pemandangan spektakuler langit dan awan yang sayang sekali kalau di lewatkan. Saya sering meminta ke petugas check in agar di tempatkan di kursi dengan kode A ataupun F yang artinya duduk di window seat. Untuk posisi relatif terhadap sayap, semua posisi baik itu di depan sayap, tepat di sayap/pintu darurat maupun di belakang sayap menawarkan kesan yang berbeda pada hasil jepretan kita. Saya pribadi suka berada di pintu darurat karena gambar sayap akan lebih membumbui hasil jepretan saya, selain itu di kursi darurat leg room nya lebih lebar, dan selalu mendapat presentasi khusus dari mbak pramugari yang cantik-cantik soal kegunaan pintu darurat😀. kerugiannya hampir selalu di samping kita gak pernah duduk makhluk bernama wanita😀, biasanya bapak2 kumisan berwajah muram😦

Berikut adalah beberapa foto yang saya ambil selama perjalanan saya menggunakan pesawat, mengingat saya masih amatiran, mohon di maafkan apabila hasilnya kurang bagus.

Garuda Pekanbaru - Jakarta di waktu sore

Malaysian Airlines -- Jakarta - Kuala Lumpur

Bye-bye Medan, GA MES - CGK

We are approaching Jakarta, pollution everywhere - GA MES - CGK

Flight attendants prepare for landing - Lion Air CGK - JOG

Ini Jogja Kawan - Lion Air CGK - JOG

Sindoro - Sumbing - Merapi, Lion Air CGK - JOG

Cockpit Susi Air, Cessna Grand Caravan 12 seats

Danau Toba dari Susi Air Aek Godang - Medan

Sedikit tips memotret dari dalam pesawat :

– Pastikan anda request untuk mendapatkan kursi window, untuk pesawat dengan format 3 – 3 biasanya kursi A & F (A di sisi kiri, F sisi kanan dengan kita menghadap ke arah depan pesawat)

– Siapkan kamera dan lensa anda sesuai kebutuhan, kalau saya biasanya memakai lensa 18-55 mm, kalau punya focal length-yang lebih panjang lebih bagus (misal 18-70mm, 18-105mm atau malah 18-200 mm).

– Copotlah filter CPL di lensa anda, saya pernah punya pengalaman kurang enak dengan filter CPL karena filter itu alih-alih menghilangkan refleksi di kaca window dan membirukan langit, justru memunculkan warna pelangi di foto kita.

– Sepengetahuan saya tidak beda dengna memotret langit di darat, pemandangan langit yang spektakuler cenderung terjadi pada saat menjelang dan sesudah sunset, bila anda terbang di jam-jam 17.00 – 19.00 siapkan saja kamera anda, kalau cuaca sedang bersahabat akan tersaji pemandangan yang sangat indah (saya pernah menyesal tidak bawa kamera waktu terbang dari Jambi ke Jakarta karena pemandangan langit sungguh indah).

Demikian sedikit sharing dari saya, semoga berguna

Yogyakarta, 8 Oct 2011