Sabtu pagi 12 November 2011, saya bersama dengan Nova dan mas Gun memutuskan untuk mencoba bersepeda menelusuri selokan mataran ke arah barat. Pada awalnya saya yang rajin searching tempat-tempat menarik ataupun blog tentang jalan-jalan menemukan sebuah cerita di blog mengenai penelusuran selokan mataram baik dengan sepeda maupun motor. Singkat cerita, dengkul saya yang sudah mulai terbiasa mengayuh sepeda untuk jarak lumayan jauh (tapi belum kuat untuk nanjak :D) gatal untuk mencoba trek blusukan melalui selokan mataram ke barat ini.

Goweser alay KW super😀

Perjalanan di mulai pukul 5 pagi dari rumah saya di Bantul, pertama saya ke rumah Nova yang berada 5 km di sebelah utara, kemudian kita ketemu dengan mas Gun yang kita suruh menunggu di pom bensin Diro (tapi dia malah ke pom bensin Pocung, yang kurang lebih berada 1 km di sebelah utara). Dan yang mengejutkan, mas gun memakai Polygon Sierra punya istrinya, jadi terlihat aneh melihat sosok segede itu naik sepeda cewek. Kita berdua sampai ngakak melihat fenomena aneh ini😀

Perjalanan dilanjutkan melalui sebelah barat pabrik gula Madukismo, nyebrang ring road, terus ke utara lagi sampai di universitas PGRI dan lanjut terus sampai jalan Godean. Mas Gun mulai keteteran di belakang, bahkan sampai tertinggal jauh dan harus kita tunggu sampai akhirnya setelah kita nyebrang ring road di barat pasar Tlogorejo setelah kita tunggu lama tidak muncul, malah sebuah sms yang datang, ternyata mas Gun menyerah dan pulang (what a shame :D). Perjalanan berlanjut sampai perempatan pertama ambil ke utara sampai ketemu selokan mataram dan perjalanan ke barat pun di mulai.

Di perempatan ring road pasar Tlogorejo ini salah satu peserta mundur dari perjalanan

Sebelumnya saya hanya tahu selokan mataram sebatas selokan yang berada di utara kampus saya di UGM, ternyata selokan ini panjang juga. Gimana gak panjang kalau selokan inilah yang menghubungkan sungai Progo di barat dengan sungai Opak di timur. Sejarah selokan mataram berawal dari inisiatif Sri Sultan Hamengkubuwono IX yang tidak menginginkan rakyat Yogyakarta menjadi Romusha, sehingga tercetuslah sebuah ide membuat kanal yang menghubungkan sungai Progo dan Opak, sehingga rakyak Jogja bisa bekerja membangun kanal ini tanpa harus ikut romusha. Proyek awalnya bernama kanal Yoshiro sesuai dengan arsitek Jepang perancang kanal ini, panjang kanal atau selokan mataram ini kurang lebih 31 km, membentang dan mengairi daerah persawahan di sekitarnya. Menurut cerita, Sunan Kalijaga pernah berujar bahwa Yogyakarta akan makmur apabila sungai Progo dan Opak di kawinkan. Mungkin ada benarnya meskipun tidak secara harfiah keduanya bersatu.

Sepeda kesayangan sampai ke selokan Mataram

Lanjut ke perjalanan sepeda, akhirnya kami sampai juga desa Bligo, Ngluwar, kabupaten Magelang di mana muara selokan mataram berada. Karena sudah sangat lapar (sepanjang selokan mataram jarang warung, kalaupun ada karena masih pagi rata2 masih tutup), kita putuskan untuk mencari warung makan dulu, tapi tetap saja tidak ketemu. Akhirnya perjalanan kita akhiri di jembatan Duwet yang menghubungkan Bligo dengan Kalibawang. Jembatan ini sempit sekali, hanya cukup satu kendaraan lewat bergantian. Masuk ke Kalibawang, aroma durian langsung tercium, yah memang daerah ini termasuk penghasil durian.

Sepeda di batas kota

Sepeda kesayangan sampai di jembatan Duwet

Sang penunjuk jalan

Odometer menunjukkan 35 km sampai di ujung jembatan duwet, artinya masih ada 35 km lagi untuk sampai ke rumah, dengan matahari yang mulai menyengat. Kita susuri jalan pulang dan Alhamdulillah menemukan warung makan yang sudah buka. Jalan pulang kita lewat sedayu dan pajangan, bantul. Sepanjang jalan keringat semakin deras seiring dengan semakin naiknya matahari, dua kali kita mencoba mengambil jalan mblusuk ke kampung tetapi berakhir tragis karena jalan buntu. Di sepanjang jalan menuju pajangan siksaan sesungguhnya datang. Panas menyengat dengan medan jalan panjang di tengah sawah tanpa peneduh plus terdapat beberapa tanjakan. Air minum sudah habis dengan kerongkongan semakin kering, sampai akhirnya bisa dengan selamat sampai ke rumah lagi pada pukul 11 siang. Total jarak tempuh 70 km (rekor pribadi), dan tidak mengherankan saat mematut diri di cermin kelihatan banget muka saya gosong dan lengan belang. Badan dan terutama kaki terasa tegang dan pegal-pegal, tapi entah kenapa pada sore hari pegal-pegal sudah hilang dan berganti dengan badan yang terasa segar…..Ternyata aku makin cinta, cinta bersepeda😀