Kegiatan bersepeda gunung memang telah begitu populer akhir-akhir ini. Mulai dari komunitas maupun pribadi yang suka gowes di aspal, jalan kampung, crosscountry (XC), All Mountain (AM), Freeride (FR), hingga downhill (DH). Setiap sepeda untuk masing-masing disiplin tersebut memiliki karakter dan spesifikasi berbeda tetapi disatukan dalam satu kesamaan yaitu rata-rata harga sepeda dan spare part-nya mahal. Bayangkan saja untuk sebuah sepeda XC kelas atas seperti Specialized Epic yang frame nya super enteng karena terbuat dari serat karbon dan material eksklusif yang super ringan bisa mencapa $9800 atau lebih dari 90 Juta rupiah !!! Tidak berbeda dengan disiplin yang lain, sebuah sepeda DH kelas atas harganya sekitar 60-70 juta !!!.

Pun demikian dengan harga selangit yang nampak tidak masuk akal tersebut, peminat sepeda gunung tidak pernah surut. Orang rela membayar mahal sepeda atau komponennya bahkan menurut beberapa cerita teman yang bikin senyum, ada yang sampai membujuk-bujuk istri atau terkadang kucing-kucingan dengan istri mereka supaya tidak ketahuan beli komponen sepeda yang mahal. Orang cenderung meng-upgrade sepedanya dengan pertimbangan performa yang lebih baik, gengsi atau ikut-ikutan teman satu komunitas.

Apabila spare part sudah dibeli, rentetan biaya masih belum terhenti karena beberapa goweser lebih memilih memercayakan sepedanya di rakit/di tune-up di bengkel sepeda. Saya pribadi lebih menyukai merakit sepeda gunung saya sendiri meski sebatas yang saya bisa (yang tidak bisa saya kerjakan adalah set wheelset dan tuning front derailleur). Motivasi saya merangkai sepeda saya sendiri selain supaya biayar lebih irit tetapi yang paling penting adalah dengan merangkai sendiri saya merasa jadi ada chemistry yang terasa dengan sepeda yang saya rakit sendiri (lebah ya? Hehehe). Sampai saat ini seingat saya, sudah 3 sepeda yang saya rakit sendir. Yang pertama adalah sepeda freeride, Polygon Collosus FR 2.0, kedua adalah memutilasi sepeda FR saya dan saya pindahkan ke frame Giant Glory 0 2011, dan yang paling update adalah saya memindahkan komponen sepeda di sepeda United Patrol 511 saya ke frame Giant Reign 2009 yang masuk ke kelas AM.

Merakit Polygon Collosus FR 2.0 Tahun lawas

Merakit Polygon Collosus FR 2.0 Tahun lawas

Spare Part Collosus Merah siap berpindah ke Giant Reign 0

Spare Part Collosus Merah siap berpindah ke Giant Reign 0

Merangkai Giant Reign dari spare part Patrol 511

Merangkai Giant Reign dari spare part Patrol 511

Utak-atik crank & BB

Utak-atik BB

Merakit sepeda memerlukan pengetahuan tentang komponen sepeda yang bermacam-macam jenisnya, antara lain : frame, RD, FD, shifter, rem, rotor, Cassete, Hub-Freehub, spoke, rims, ban, fork, stem, stang, grip, seatpost, sadel dll. Untuk peralatan perbengkelan yang dibutuhkan rata-rata komponen sepeda menggunakan profile allen key (Kunci L). Saat ini banyak toko yang menjual tool set untuk merakit dan perbaikan sepeda. Untuk tata cara merakit sebenarnya tidak sulit, karena sepeda konstruksinya lebih sederhana daripada motor, (meski kadang harganya melebihi harga motor…hehe). Apabila ada hal-hal yang belum bisa diketahui, Google maupun Youtube masih beroperasi. Pengalaman pribadi saya dulu sempat bingung dengan cara pasang rantai dan nge-set RD, akhirnya bertanyalah saya ke youtube seperti dibawah ini :

Cara Pemasangan dan Setting Rantai :

Cara Pengesetan RD :

Dan masih banyak lagi petunjuk yang bisa dicari di Youtube maupun Google

Si Reni sudah lulus di test di medan berat

Si Reni hasil utak-atik sendiri sudah lulus di test di medan berat

Demikian saja artikel pendek saya demi memeriahkan kembali blog saya yang mood-mood an ini. Terserah anda apakah akan merangkai sepeda anda sendiri seperti saya atau lebih mempercayakan sepeda ke bengkel langganan. Yang jelas saya sendiri lebih memilih merangkai sendiri sepeda saya karena dengan begitu saya merasa chemistry saya dengan sepeda yang saya rakit dan saya pakai gowes lebih terasa (Lebay.com…hehe)

Salam,

Giant Glory rakitan sendiri sudah lolos uji di trek DH Turgo

Giant Glory rakitan sendiri sudah lolos uji di trek DH Turgo